STRATEGI
PEMASARAN
A. Pengertian Strategi Pemasaran
Strategi
pemasaran adalah pengambilan keputusan-keputusan tentang biaya pemasaran,
bauran pemasaran, alokasi pemasaran dalam hubungan dengan keadaan lingkungan
yang diharapkan dan kondisi persaingan. Dalam strategi pemasaran, ada tiga faktor
utama yang menyebabkan terjadinya perubahan strategi dalam pemasaran yaitu :
1. Daur hidup produk
Strategi harus disesuaikan dengan tahap-tahap
daur hidup, yaitu tahap perkenalan, tahap pertumbuhan, tahap kedewasaan dan
tahap kemunduran.
2. Posisi persaingan perusahaan di pasar
Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan
posisi perusahaan dalam persaingan, apakah memimpin, menantang, mengikuti atau
hanya mengambil sebagian kecil dari pasar.
3. Situasi ekonomi
Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan
situasi ekonomi dan pandangan kedepan, apakah ekonomi berada dalam situasi
makmur atau inflasi tinggi.
B. Macam-Macam Strategi Pemasaran
macam strategi pemasaran diantaranya:
1. Strategi kebutuhan primer
Strategi-strategi pemasaran untuk merancang
kebutuah primer yaitu:
1. Menambah jumlah pemakai dan
2. Meningkatkan jumlah pembeli.
2. Strategi Kebutuhan Selektif
Yaitu dengan cara :
a. Mempertahankan pelanggan misalnya:
1. Memelihara kepuasan pelanggan;
2. Menyederhanakan proses pembelian;
3. Mengurangi daya tarik atau jelang untuk
beralih merk;
b. Menjaring pelanggan (Acquistion
Strategier)
1. Mengambil posisi berhadapan (head – to
heas positioning)
2. Mengambil posisi berbeda (differentiated
positin)
Secara lebih jelas, strategi pemasaran dapat
dibagi kedalam empat jenis yaitu:
1. Merangsang kebutuhan primer dengan
menambah jumlah pemakai.
2. Merangsang kebutuhan primer dengan
memperbesar tingkat pembelian.
3. Merangsang kebutuhan selektif dengan
mempertahankan pelanggan yang ada.
4. Merangsang kebutuhgan selektif dengan
menjaring pelanggan baru.
Strategi
Pemasaran
Menurut Armstrong dan Kotler (2000:5), marketing adalah “A
societal process by which individuals and groups obtain what they need and want
through creating, offering and freely exchanging products and services of value
with others”.
Sedangkan pengertian Marketing strategy menurut
Armstrong dan Kotler (2000:37), yaitu “The marketing logic by which the
business unit hopes to achieve its marketing objective”.
Menurut Guiltinan dan Paul (1992), definisi strategi pemasaran
adalah pernyataan pokok
tentang dampak yang diharapkan akan dicapai dalam hal permintaan pada target pasar yang ditentukan.
tentang dampak yang diharapkan akan dicapai dalam hal permintaan pada target pasar yang ditentukan.
Segmentasi
(Segmentation)
Menurut Solomon dan Elnora (2003:221), segmentasi adalah ”The process of
dividing a larger market into smaller pieces based on one or more meaningful,
shared characteristic”.
Dengan
melaksanakan segmentasi pasar, kegiatan pemasaran dapat dilakukan lebih terarah
dan sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat digunakan secara lebih efektif
dan efisien dalam rangka memberikan kepuasan bagi
konsumen.
Selain itu perusahaan dapat melakukan program-program pemasaran yang terpisah
untuk memenuhi kebutuhan khas masing-masing segmen.
Ada beberapa variabel segmentasi yaitu:
1.
Demografis
Segmentasi ini
dilakukan dengan membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan variabel
demografis sepert: Usia, jenis kelamin, besarnya keluarga, pendapatan, ras, pendidikan,
pekerjaan, geografis.
2.
Psikografis
Segmentasi ini
dilakukan dengan membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok yang berlainan
menurut kelas sosial, gaya hidup, kepribadian, dan lain-lain. Informasi
demografis sangat berguna, tetapi tidak selalu menyediakan informasi yang cukup
untuk membagi konsumen ke dalam segmen-segmen, sehingga diperlukan segmen
berdasarkan psychografis untuk lebih memahami karakteristik konsumen.
3.
Perilaku
Segmentasi ini dilakukan
dengan membagi konsumen ke dalam segmen-segmen berdasarkan bagaimana tingkah
laku, perasaan, dan cara konsumen menggunakan barang/situasi pemakaian, dan
loyalitas merek.
Cara untuk membuat
segmen ini yaitu dengan membagi pasar ke dalam pengguna dan non-pengguna
produk.
Agar
segmen pasar dapat bermanfaat maka harus memenuhi beberapa karakteristik:
-
Measurable
: Ukuran, daya beli, dan profil segmen harus dapat diukur meskipun ada beberapa
variabel yang sulit diukur.
-
Accessible
: Segmen pasar harus dapat dijangkau dan dilayani secara efektif.
-
Substantial
: Segmen pasar harus cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani
-
Differentiable
: Segmen-segmen dapat dipisahkan secara konseptual dan memberikan tanggapan
yang berbeda terhadap elemen-elemen dan bauran pemasaran yang berbeda.
-
Actionable
: Program yang efektif dapat dibuat untuk menarik dan melayani segmen-segmen
yang bersangkutan.
Langkah dalam mengembangkan segmentasi yaitu:
1.
Mensegmen
pasar menggunakan variabel-variabel permintaan, seperti kebutuhan konsumen,
manfaat yang dicari, dan situasi pemakaian.
2.
Mendeskripsikan
segmen pasar yang diidentifikasikan dengan menggunakan variabel-variabel yang
dapat membantu perusahaan memahami cara melayani kebutuhan konsumen tersebut
dan cara berkomunikasi dengan konsumen.
Targeting
Menurut
Solomon dan Elnora (2003:232), Target market ialah ”Group that a firm selects
to turn into customers as a result of segmentation and targeting”.
Setelah
pasar dibagi-bagi dalam segmen-segmen, maka perusahaan harus memutuskan
suatu strategi target market.
Perusahaan
dapat memilih dari empat strategi peliputan pasar:
1) Undifferentiated targeting strategy, strategi ini
menganggap suatu pasar sebagai satu pasar besar dengan kebutuhan yang serupa,
sehingga hanya ada satu bauran pemasaran yang digunakan untuk melayani semua
pasar.
Perusahaan mengandalkan produksi, distribusi, dan periklanan massa guna menciptakan citra superior di mata sebagian besar konsumen.
Perusahaan mengandalkan produksi, distribusi, dan periklanan massa guna menciptakan citra superior di mata sebagian besar konsumen.
2) Differentiated targeting strategy, perusahaan
menghasilkan beberapa produk yang memiliki karakteritik yang berbeda. Konsumen
membutuhkan variasi dan perubahan sehingga perusahaan berusaha untuk menawarkan
berbagai macam produk yang bisa memenuhi variasi kebutuhan tersebut.
3) Concentrated targeting strategy, perusahaan lebih
memfokuskan menawarkan beberapa produk pada satu segmen yang dianggap paling
potensial.
4)
Custom targeting strategy, lebih
mengarah kepada pendekatan terhadap konsumen secara individual.
Langkah dalam mengembangkan targeting yaitu:
1.
Mengevaluasi
daya tarik masing-masing segmen dengan menggunakan variable-variabel yang dapat
mengkuantifikasi kemungkinan permintaan dari setiap segmen, biaya melayani
setiap segmen, dan kesesuaian antara kompetensi inti perusahaan dan peluang
pasar sasaran.
2.
Memilih
satu atau lebih segmen sasaran yang ingin dilayani berdasarkan potensi laba
segmen tersebut dan kesesuaiannya dengan strategi korporat perusahaan.
Positioning
Menurut Solomon, dan Elnora (2003:235), Positioning ialah “Developing a marketing strategy aimed at influencing how a particular market segment perceives a good or service in comparison to the competition”.
Menurut Solomon, dan Elnora (2003:235), Positioning ialah “Developing a marketing strategy aimed at influencing how a particular market segment perceives a good or service in comparison to the competition”.
Penentuan posisi pasar menunjukkan bagaimana
suatu produk dapat dibedakan dari para pesaingnya.
Ada
beberapa positioning yang dapat dilakukan:
a. Positioning berdasarkan perbedaan produk.
Pendekatan ini dapat dilakukan jika produk suatu
perusahaan mempunyai kekuatan yang lebih dibandingkan dengan pesaing dan
konsumen harus merasakan benar adanya perbedaan dan manfaatnya.
b. Positioning berdasarkan atribut produk atau keuntungan
dari produk tersebut.
Pendekatan ini berusaha mengidentifikasikan atribut apa yang dimiliki suatu produk dan manfaat yang dirasakan oleh kosumen atas produk tersebut.
Pendekatan ini berusaha mengidentifikasikan atribut apa yang dimiliki suatu produk dan manfaat yang dirasakan oleh kosumen atas produk tersebut.
c. Positioning berdasarkan pengguna produk.
Pendekatan ini hampir sama dengan targeting dimana lebih
menekankan pada siapa pengguna produk.
d. Positioning berdasarkan pemakaian produk.
Pendekatan ini digunakan dengan membedakan pada saat apa
produk tersebut
dikonsumsi.
dikonsumsi.
e. Positioning berdasarkan pesaing.
Pendekatan ini digunakan dengan membandingkan
keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh pesaing sehingga konsumen dapat memilih
produk mana yang lebih baik.
f. Positioning berdasarkan kategori produk.
Pendekatan ini digunakan untuk bersaing secara langsung
dalam kategori produk, terutama ditujukan untuk pemecahan masalah yang sering
dihadapi oleh pelanggan.
g. Positioning berdasarkan asosiasi.
Pendekatan ini mengasosiasikan produk yang dihasilkan
dengan asosiasi yang dimiliki oleh produk lain. Harapannya adalah sebagian
asosiasi tersebut dapat memberikan kesan positif terhadap produk yang
dihasilkan oleh perusahaan.
h. Positioning berdasarkan masalah.
Pendekatan ini digunakan untuk menunjukkan kepada
konsumen bahwa produk yang ditawarkan memiliki positioning untuk dapat
memecahkan masalah.
Langkah dalam mengembangkan strategi
positioning yaitu:
1)
Mengidentifikasi
Keunggulan Kompetitif. Jika perusahaan dapat menentukan posisinya sendiri
sebagai yang memberikan nilai superior kepada sasaran terpilih, maka ia memperoleh
keunggulan komparatif.
2)
Dalam
menawarkan produk dengan suatu competitive advantage, perusahaan harus
meyediakan suatu alasan mengapa pelanggan akan merasa bahwa produk dari
perusahaan yang bersangkutan lebih baik daripada para pesaingnya.
3)
Perusahaan
harus mengevaluasi respon dari target market sehingga dapat memodifikasi
strategi bila dibutuhkan
Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan
pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk.
Seperti halnya dengan manusia, suatu produk juga memiliki siklus atau daur
hidup.
Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini yaitu suatu
grafik yang menggambarkan riwayat produk sejak diperkenalkan ke pasar sampai
dengan ditarik dari pasar .
Siklus Hidup Produk (Product
Life Cycle) ini merupakan konsep yang penting dalam pemasaran karena memberikan
pemahaman yang mendalam mengenai dinamika bersaing suatu produk.
Konsep ini dipopulerkan oleh levitt (1978)
yang kemudian penggunaannya dikembangkan dan diperluas oleh para ahli lainnya.
Ada berbagai pendapatan
mengenai tahap-tahap yang ada dalam Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle)
suatu produk. Ada yang
menggolongkannya menjadi introduction, growth, maturity, decline dan
termination.
Sementara itu ada pula yang
menyatakan bahwa keseluruhan tahap
– tahap Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) terdiri dari introduction
(pioneering), rapid growth (market acceptance), slow growth (turbulance),
maturity (saturation), dan decline (obsolescence).
Meskipun demikian pada
umumnya yang digunakan adalah penggolongan ke dalam empat tahap, yaitu
introduction, growth, maturity dan decline.
Menurut Basu Swastha (1984:127-132), daur hidup produk itu
di bagi menjadi empat tahap, yaitu :
1. Tahap perkenalan (introduction).
Pada
tahap ini, barang mulai dipasarkan dalam jumlah yang besar walaupun volume
penjualannya belum tinggi. Barang yang di jual umumnya barang baru (betul-betul
baru) Karena masih berada pada tahap permulaan, biasanya ongkos yang
dikeluarkan tinggi terutama biaya periklanan. Promosi yang dilakukan memang
harus agfesif dan menitikberatkan pada merek penjual. Di samping itu distribusi
barang tersebut masih terbatas dan laba yang diperoleh masih rendah.
2. Tahap pertumbuhan (growth).
Dalam
tahap pertumbuhan ini, penjualan dan laba akan meningkat dengan cepat. Karena
permintaan sudah sangat meningkat dan masyarakat sudah mengenal barang
bersangkutan, maka usaha promosi yang dilakukan oleh perusahaan tidak seagresif
tahap sebelumnya. Di sini pesaing sudah mulai memasuki pasar sehingga
persaingan menjadi lebih ketat. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperluas
dan meningkatkan distribusinya adalah dengan menurunkan harga jualnya.
3. Tahap kedewasaan (maturity)
Pada
tahap kedewasaan ini kita dapat melihat bahwa penjualan masih meningkat dan
pada tahap berikutnya tetap. Dalam tahap ini, laba produsen maupun laba pengecer
mulai turun. Persaingan harga menjadi sangat tajam sehingga perusahaan perlu
memperkenalkan produknya dengan model yang baru. Pada tahap kedewasaan ini,
usaha periklanan biasanya mulai ditingkatkan lagi untuk menghadapi persaingan.
4. Tahap kemunduran (decline)
Hampir
semua jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan selalu mengalami kekunoan
atau keusangan dan harus di ganti dengan barang yang baru. Dalam tahap ini,
barang baru harus sudah dipasarkan untuk menggantikan barang lama yang sudah
kuno. Meskipun jumlah pesaing sudah berkurang tetapi pengawasan biaya menjadi
sangat penting karena permintaan sudah jauh menurun.Apabila barang yang lama
tidak segera ditinggalkan tanpa mengganti dengan barang baru, maka perusahaan
hanya dapat beroperasi pada pasar tertentu yang sangat terbatas'
Altematif-alternatif yang dapat
dilakukan oleh manajemen pada saat penjualan menurun antara lain:
a.
Memperbarui barang (dalam arti fungsinya).
b.
Meninjau kembali dan memperbaiki progrcm pemasaran serta
program produksiny a agar lebih efisien.
c.
Menghilangkan ukuran, warna, dan model yang kurang baik.
d.
Menghilangkan sebagian jenis barang untuk mencapai laba
optimum pada barang yang sudah ada.
e.
Meninggalkan sama sekali barang tersebut
Analisis dan Pilihan Strategi (Matriks
SWOT, SPACE, BCG)
Matriks
Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman (SWOT)
1)
Matrik
SWOT adalah sebuah alat pencocokan yang penting yang membantu para manajer mengembangkan
empat jenis strategi, yaitu strategi SO (kekuatan peluang), strategi WO
(kelemahan peluang), strategi ST (kekuatan ancaman), dan strategi WT (kelemahan
ancaman).
2)
Strategi
SO memanfaatkan kekuatan internal perusaan untuk menarik keuntungan dari
peluang eksternal. Semua manajer menginginkan organisasi yang mereka pimpin
berada dalam posisi di mana kekuatan internal dapat digunakan untuk mengambil
keuntungan dari berbagai trend dan kejadian eksternal. Jika sebuah
perusahaan memiliki kelemahan besar, maka perusahaan akan berjuang untuk
mengatasinya dan mengubahnya menjadi kekuatan. Ketika organisasi di hadapkan
pada ancaman yang besar, maka perusahaan akan berusaha menghindarinya untuk
berkonsentrasi pada peluang.
3)
Strategi
WO bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil
keuntungan dari peluang eksternal. Terkadang peluang-peluang besar muncul
tetapi perusahaan memiliki kelemahan internal yang menghalanginya memanfaatkan
peluang tersebut.
4)
Strategi
ST menggunakan kekuatan sebuah perusahaan untuk menghindari atau mengurangi
dampak ancaman eksternal. Hal ini bukan berarti bahwa suatu organisasi yang
kuat harus selalu menghadapi ancaman secara langsung di dalam lingkungan
eksternal.
5)
Strategi
WT merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelamahan internal
serta menghindari ancaman eksternal. Sebuah organisasi yang menghadapi berbagai
ancama eksternal dan kelemahan internal benar-benar dalam posisi yang
membahayakan. Dalam kenyataannya, perusahaan yang semacam itu mungkin harus
berjuang untuk bertahan hidup, melakukan merger, penciutan, menyatakan
diri bangkrut atau memilih likuidasi.
Walaupun matrik SWOT digunakan secara luas
dalam perencanaan strategis, analisis tersebut memiliki bebrapa keterbatasan.
1)
Pertama,
SWOT tidak menunjukkan cara mencapai suatu keunggulan kompetitif. Matriks itu
harus dijadikan titik awal untuk diskusi mengenai bagai strategi yang diusulkan
dapat diterapkan serta berbagai pertimbangan biaya manfaat yang pada akhirnya
mengarah pada keunggulan kompetitif.
2)
Kedua,
SWOT merupakan penilaian yang statis (atau terpotong-potong) dan tunduk oleh
waktu. Matriks SWOT bisa jadi mempelajari sebuah gambar film dimana anda bisa
melihat pameran utama dan penataannya tetapi tidak mungkin dapat memahami alur
ceritanya.
3)
Ketiga,
analisis SWOT bisa membuat perusahaan memberi penekanan yang berlebih pada satu
faktor internal atau eksternal tertentu dalam merumuskan strategi. Terdapat
interelasi di antara faktor-faktor internal dan eksternal utama yang tidak
ditunjukkan dalam SWOT namun penting dalam penggunaan strategi.
Terdapat
delapan langkah dalam membentuk sebuah Matriks SWOT:
1) Buatlah daftar
peluang-peluang eksternal utama perusahaan.
2) Buat daftar
ancaman-ancaman eksternal utama perusahaan.
3) Buat daftar
kekuatan-kekuatan internal utama perusahaan.
4) Buat daftar
kelemahan-kelemahan internal utama perusahaan
5) Cocokkan kekuatan
internal dengan peluang eksternal, dan catatlah hasilnya pada Strategi SO.
6) Cocokkan kelemahan
internal dengan peluang eksternal, dan catatlah hasilnya pada Strategi WO.
7) Cocokkan kekuatan
internal dengan ancaman eksternal, dan catatlah hasilnya pada strategi ST.
8) Cocokkan kelemahan
internal dengan ancaman eksternal, dan catatlah hasilnya pada strategi WT.
Matriks Posisi Strategi dan Evaluasi
Tindakan (SPACE)
Matriks ini merupakan kerangka empat sudut
pandang yang menunjukkan apakah strategi agresif, konservatif, defensif,atau
kompetitif yang paling sesuai untuk suatu organisasi tertentu.
Sumbu-sumbu matrik SPACE menunjukkan dua
dimensi internal dan keunggulan kompetitif dan dua dimensi eksternal dan
kekuatan industri. Keempat faktor ini kiranya merupakan penentu terpenting dari
posisi strategi keseluruhan suatu organisasi.
Bergantung pada jenis organisasi, beragam
variabel bisa memetakan masing-masing dimensi yang ditunjukkan dalam sumbu
matrik SPACE. Faktor-faktor yang sebelumnya dimasukkan di dalam matriks EFE dan
IFE harus ikut dipertimbangkan ketika mengembangkan matriks SPACE.
Sebagai contoh, pengembalian atas investasi,
pengungkit, likuiditas, modal kerja, dan arus kas biasanya dipandang sebagai
faktor-faktor penentu kekuatan finansial sebuah organisasi. Seperti Matriks
SWOT, Matriks SPACE hendaknya disesuaikan dengan organisasi tertentu yang
sedang dikaji dan didasarkan pada sebanyak mungkin informasi faktual.
Matriks
SPACE
|
Agresif:
1. Intregasi
ke belakang, intregasi kedepan, integrasi horisontal
2. penetrasi
pasar
3. pengembangan
pasar
4. pengembangan
produk
5. Deverifikasi
terkait atau tak terkait
|
|
Konservatif:
1. penetrasi
pasar
2. pengembangan
pasar
3. pengembangan
produk
4. deverifikasi
terkait
|
|
Kompetitif:
1. Integrasi
kebelakang, integrasi kedepan, integrasi horisontal
2. penetrasi
pasar
3. pengembangan
pasar
4. pengembangan
produk
|
|
Defensif:
1. penciutan
2. divestasi
3. likuidasi
|
1.
Pilih
serangkaian variabel untuk menentukan kekuatan finansial (FS), Keunggulan
kompetitif (CA), stabilitas lingkungan (ES), dan kekuatan industri (IS)
2.
Nilai
variabel-variabel tersebut menggunakan skala 1 (paling buruk) sampai 6 paling
baik untuk FS dan IS. Nilai variabel-variabel tersebut menggunakan skala -6
(paling buruk) sampai -1 (paling baik) untuk ES dan CA. Pada sumbe FS dan CA, buatlah
perbandingan dengan pesaing pada sumbu IS dan ES, buatlah dengan industri lain.
3.
Hitunglah
rata-rata dari FS, CA, IS, dan ES dengan menjumlahkan nilai yang anda berikan
pada variabel dari setiap dimensi dan kemudian membaginya dengan jumlah
variabel daalam dimensi yang bersangkutan.
4.
Petakan
nilai rata-rata untuk FS, IS, ES, dan CA pada sumbu yang sesuai dalam Matriks
SPACE.
5.
Jumlahkan
nilai rata-rata pada sumbu x (CA, IS) dan petakan hasilnya pada sumbu X.
Jumlahkan nilai rata-rata pada sumbu y (FS, ES) dan petakan hasilnya pada sumbu
Y. petakan perpotongan kedua titik X dan Y (xy yang baru) tersebut.
6.
Gambarlah
arah vetor (directional vector) dari koordinat 0,0 melalui titik perpotongan
yang baru. Arah panah menunjukkan jenis strategi yang disarankan bagi
organisasi: agresif, kompetitif, defensif, atau konservatif.
Contoh
Matrik SPACE Untuk Sebuah Bank
|
Kekuatan Finansial (FS)
|
Peringkat
|
|
Rasio
modal pokok bank adalah 7,23%, yang berarti 1,23 point persentase lebih tinggi
dari rasio 6 persen yang dipersyaratkan
|
1,0
|
|
Pengembalian
atas aset bank adalah negatif 0,77, dibandingkan dengan rasio rata-rata
industri perbankan sebesar positif 0,70.
|
1,0
|
|
Laba
bersih bank adalah sebesar $183 juta, turun 9% dari tahun sebelumnya
|
3,0
|
|
Pendapatan
Bank Meningkat 7% menjadi $3,46 milyar
|
4,0
|
|
9,0
|
|
|
Kekuatan Industri (IS)
|
|
|
Deregulasi
menghasilkan kebebasan geografis dan produk
|
4,0
|
|
Deregulasi
meningkatkan kompetisi di industri perbankan
|
2,0
|
|
Undang-undang
baru memungkinkan bank untuk mengakusisi bank lain di provinsi lain
|
4,0
|
|
10,0
|
|
|
Stabilitas lingkungan (ES)
|
|
|
Negara-negara
tertinggal mengalami inflasi yang tinggi dan ketidakstabilan politik.
|
-4,0
|
|
Berkantor
pusat di Qindao, secara historis bank sangat bergantung pada industri baja,
minyak, gas.
|
-5,0
|
|
Deregulasi
perbankan telah menciptakan ketidakstabilan di semua industri
|
-4,0
|
|
-13,0
|
|
|
Keunggulan kompetitif (CA)
|
|
|
Bank
menyediakan jasa pemrosesan data untuk lebih dari 450 industri di 15 provinsi
|
-2,0
|
|
Bank-bank
supraregisional, internasional, dan nonbank menjadi kompetitif.
|
-5,0
|
|
Bank
memiliki basis konsumen yang luas
|
-2,0
|
|
-9,0
|
|
|
Rata-rata
ES adalah -13,0/3 = -4,33
rata-rata
IS adalah +10,0/3= 3,33
Rata-rata
CA adalah -9,0/3= -3,00
rata-rata
FS adalah +9,0/4=2,25
Koordinat
arah vektor: sumbu x: -3,00 + (+3,33) = +0,33
Sumbu
y: -4,33 + (+2,25) = -2,08
Bank
tersebut harus menjalankan Strategi Kompetitif
|
|
Matriks Boston Consulting Group (BCG)
Ketika divisi-divisi suatu perusahaan
bersaing di industri yang berbeda, strategi yang terpisah dikembangkan untuk
setiap bisnis. Secara khusus matriks BCG dan matriks IE (Internal dan
Eksternal) secara khusus dirancang untuk membantu upaya-upaya perusahaan
multidivisional dalam merumuskan strategi.
Matriks
BCG secara grafis menggambarkan perbedaan antar divisi dalam hal posisi pangsa
pasar relatif dan tingkat pertumbuhan industri.
Matriks BCG memenungkingkan sebuah organisasi
multidevisional mengelola portofolio bisnisnya dengan cara mengamati posisi
pangsa pasar relatif dan tingkat pertumbuhan industri dari setiap divisi
relatif terhadap semua divisi lain di dalam organisasi. Posisi pangsa pasar
relatif (relative market share position) didefinisikan sebagai rasio pangsa
pasar (atau pendapatan) yang dimiliki oleh perusahaan pesaing terbesar di
industri tersebut.
Manfaat terbesar dari matriks BCG adalah
menarik perhatian kita pada arus kas, karakteristik investasi, dan kebutuhan berbagai
divisi dalam organisasi.
Matriks BCG adalah perangkat strategi untuk
memberi pedoman pada keputusan alokasi sumber daya berdasarkan pangsa pasar dan
pertumbuhan UBS.
Matriks BCG merupakan empat kelompok bisnis,
yaitu:
1)
Tanda
tanya (Question Mark) Divisi dalam kuadran I memiliki posisi pangsa pasar
relatif yang rendah, tetapi mereka bersaing dalam industri yang bertumbuh
pesat. Biasanya kebutuhan kas perusahaan ini tinggi dan pendapatan kasnya
rendah. Bisnis ini disebut tanda tanya karena organisasi harus memutuskan
apakah akan memperkuat divisi ini dengan menjalankan strategi intensif
(penetrasi pasar, pengembangan pasar, atau pengembangan produk) atau
menjualnya.
2)
Bintang
(Star) Bisnis di kuadran II (disebut juga Bintang) mewakili peluang jangka
panjang terbaik untuk pertumbuhan dan profitabilitas bagi organisasi. Divisi
dengan pangsa pasar relatif yang tinggi dan tingkat pertumbuhan industri yang
tinggi seharusnya menerima investasi yang besar untuk mempertahankan dan
memperkuat posisi dominan mereka. Kategori ini adalah pemimpin pasar namun
bukan berarti akan memberikan arus kas ositif bagi perusahaan, karena harus
mengeluarkan banyak uang untuk memenangkan pasar dan mengantisipasi para
pesaingnya. Integrasi ke depan, ke belakang, dan orizontal, enetrasi pasar,
pengembangan pasar, pengembangan produk, dan joint venture erupakan strategi
yang sesuai untuk dipertimbangkan divisi ini.
3)
Sapi
perah (Cash Cow) Divisi yang berposisi di kuadran III memiliki pangsa pasar
relatif yang tinggi tetapi bersaing dalam industri yang pertumbuhannya lambat.
Disebut sapi perah karena menghasilkan kas lebih dari yang dibutuhkanya, mereka
seringkali diperah untuk membiayai untuk membiayai sektor usaha yang lain.
Banyak sapi perah saat ini adalah bintang di masa lalu, divisi sapi perah harus
dikelola unuk mempertahankan posisi kuatnya selama mungkin. Pengembangan produk
atau diversifikasi konsentrik dapat menjadi strategi yang menarik untuk sapi
perah yang kuat. Tetapi, ketika divisi sapi perah menjadi lemah, retrenchment
atau divestasi lebih sesuai untuk diterapkan.
4)
Anjing
(Dog) Divisi kuadran IV dari organisasi memiliki pangsa pasar relatif yang
rendah dan bersaing dalam industri yang pertumbuhannya rendah atau tidak
tumbuh. Mereka adalah anjing dalam portofolio perusahaan. Karena posisi
internal dan eksternalnya lemah, bisnis ini seringkali dilikuidasi, divestasi
atau dipangkas dengan retrenchment. Ketika sebuah divisi menjadi anjing,
retrenchment dapat menjadi strategi yang terbaik yang dapat dijalankan karena
banyak anjing yang mencuat kembali, setelah pemangkasan biaya dan aset
besar-besaran, menjadi bisnis yang mampu bertahan dan menguntungkan.
Kelebihan dari Matriks BCG adalah salah satu
alat pembuat keputusan yang paling mudah. Hanya dengan membaca grafiknya, orang
akan dapat dengan mudah melihat di posisi manakah perusahaan mereka berada.
Matriks ini memusatkan perhatian pada arus kas, karakteristik investasi, dan
kebutuhan berbagai divisi organisasi.
Divisi dapat berubah dari waktu ke waktu:
anjing menjadi tanda tanya, tanda tanya menjadi bintang, bintang menjadi sapi
perah, dan sapi perah menjadi anjing. Namun yang jarang terjadi adalah
perubahan yang searah jarum jam. adapun untuk kelemahan dari matriks ini hanya
menggunakan dua dimensi yaitu pangsa pasar relative dan tingkat pertumbuhan
pasar.
Kemungkinan sulit mendapatkan data pangsa
pasar maupun tingkat pertumbuhan pasar. Terlalu menyederhanakan banyak bisnis
karena memandang semua bisnis sebagai bintang, sapi perah, anjing atau tanda
tanya.
Dalam metode ini, diasumsikan bahwa setiap
unit bisnis tidak tergantung pada unit bisnis lain, padahal dalam beberapa
kasus, unit bisnis “anjing” bisa membantu unit bisnis lain untuk memperoleh
keunggulan kompetitif. Matriks ini tidak menggambarkan apakah berbagai divisi
atau industri mereka bertumbuh sepanjang waktu, sehingga matriks ini tidak
memiliki karakteristik waktu, sehingga terdapat variabel lain yang penting
seperti ukuran pasar dan keunggulan kompetitif. Matriks sangat bergantung pada
luasnya definisi pasar.
Suatu unit bisnis dapat mendominasi pada
pasar yang kecil, tetapi memiliki pangsa pasar sangat rendah dalam industri
secara keseluruhan. Dalam kasus seperti itu, definisi dari pasar dapat membuat
perbedaan antara “anjing” dan “sapi perah”.
Teknik-teknik perumusan strategi yang penting dapat
diintegrasikan ke dalam kerangka pengambilan keputusan tiga tahap. Berikut ini
penjelasan masing-masing tahap secara sistematis :
1)
Tahap Input.
Informasi yang diperoleh dari analisis kondisi internal, eksternal dan
profil kompetitif menjadi informasi dasar untuk tahap pencocokan dan tahap
keputusan. Alat-alat input mendorong para penyusun strategi untuk mengukur
subjektifitas selama tahap awal proses perumusan strategi. Membuat berbagai
keputusan-keputusan kecil dalam matriks input menyangkut signifikansi relatif
faktor-faktor eksternal dan internal memungkinkan para penyusun strategi untuk
secara lebih efektif menciptakan serta mengevaluasi strategi alternatif.
Penilaian intuitif yang baik selalu dibutuhkan dalam menentukan bobot dan
peringkat yang tepat.
2) Tahap Pencocokan.
Tahap pencocokan dari kerangka perumusan strategi terdiri atas limateknik
yang dapat digunakan dengan urutan manapun : Matriks SWOT, Matriks SPACE,
Matriks BCG, Matriks IE dan Matriks Strategi Besar. Alat-alat ini bergantung
pada informasi yang diperoleh dari tahap input untuk memadukan peluang dan
ancaman eksternal dengan kekuatan dan kelemahan internal. Mencocokkan
(matching) faktor-faktor keberhasilan penting eksternal dan internal merupakan
kunci untuk menciptakan strategi alternatif yang masuk akal. Mengembangkan
gagasan yang memanfaatkan kekuatan untuk menangkap peluang dapat dianggap
sebuah serangan, sementara strategi yang dirancang untuk memperbaiki kelemahan
sembari menghindar dari ancaman bisa diistilahkan sebagai pertahanan.
Matriks SWOT adalah sebuah alat pencocokan yang penting yang membantu para
manajer mengembangkan empat jenis strategi.
Matriks Posisi Strategis dan Evaluasi Tindakan (Strategic Posistion and
Action Evaluation-SPACE) merupakan kerangka empat kuadran yang menunjukkan
apakah strategi agresif, konservatif, defensif atau kompetitif yang paling
cocok untuk organisasi tertentu.
Matriks BCG secara grafis menggambarkan perbedaan antara divisi dalam hal
posisi pangsa pasar relatif dan tingkat pertumbuhan industri.
Divisi yang berada di Kuadran I memiliki posisi pangsa pasar yang relatif
rendah, namun mereka bersaing di industri dengan tingkat pertumbuhan tinggi.
Pada umumnya, kebutuhan kas perusahaan ini tinggi sementara pendapatan kas
mereka rendah.
Pada kuadran II dinamakan dengan Bintang, yang menggambarkan peluang
pertumbuhan dan profitabilitas jangka panjang terbaik organisasi.
Kuadran III disebut Sapi Perah Kas karena memiliki posisi pangsa pasar
relatif yang tinggi tetapi bersaing di industri dengan tingkat pertumbuhan yang
rendah.
Sementara divisi-divisi pada kuadran IV dinamakan Anjing karena memiliki
posisi pangsa pasar relative yang rendah dan bersaing dalam industri yang
tumbuh lambat atau sama sekali tidak tumbuh.
Matriks Internal-Ekternal (IE Matrix) memosisikan berbagai divisi suatu
organisasi dalam tampilan sembilan sel. Matriks IE dapat dibagi menjadi tiga
bagian besar yang mempunyai implikasi strategis yang berbeda-beda.
1) Pertama, ketentuan untuk divisi-divisi yang masuk dalam sel I, II, atau IV
dapat digambarkan sebagai tumbuh dan membangun. Strategi yang intensif
(penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk) atau integratif
(integrasi ke belakang, integrasi ke depan dan integrasi horizontal) bisa
menjadi pilihan yang paling tepat bagi divisi-divisi ini.
2) Kedua, divisi yang masuk dalam sel III, V, atau VII dapat ditangani dengan
baik melalui strategi menjaga dan mempertahankan; penetrasi pasar dan
pengembangan produk adalah dua strategi yang paling banyak digunakan dalam
jenis divisi ini.
3) Ketiga, ketentuan umum untuk divisi yang masuk dalam sel VI, VIII, dan IX
adalah panen atau divestasi. Organisasi yang berhasil, mampu mencapai
portofolio bisnis yang masuk atau berada di seputar sel I dalam Matriks IE. Matriks
Strategi Besar didasarkan pada dua dimensi evaluatif; posisi kompetitif dan
pertumbuhan pasar (industri). Perusahaan-perusahaan yang berada dalam kuadran I
Matriks Strategi Besar memiliki posisi strategis yang sempurna.
Perusahaan-perusahaan yang berada di Kuadran II perlu secara serius
mengevaluasi pendekatan mereka terhadap pasar. Organisasi-organisasi kuadran
III bersaing di industri yang pertumbuhannya lambat serta memiliki posisi
kompetitif lemah. Terakhir, bisnis-bisnis kuadran IV memiliki posisi kompetitif
yang kuat namun berada dalam industry yang pertumbuhannya lambat.
Dari penjelasan di
atas terlihat bahwa ada berbagai strategi yang dapat dipakai perusahaan terkait
dengan hasil analisis yang telah dilakukan misalnya penetrasi pasar,
pengembangan produk, pengembangan pasar dan diversifikasi produk. Menurut Kodrat
(2009), penetrasi pasar adalah menjual lebih banyak produk yang sudah ada, di
pasar yang sudah ada. Strategi ini berusaha untuk meningkatkan market share
dengan risiko rendah. Pengembangan produk adalah pengembangan produk baru untuk
meningkatkan penjualan di pasar yang ada.
3. Tahap Keputusan.
Analisis dan intuisi
menjadi landasan bagi pengambilan keputusan perumusan strategi. Teknikteknik
pencocokan yang baru saja dibahas memaparkan berbagai alternatif strategi yang
bisa ditempuh. Banyak dari strategi ini kemungkinan akan diusulkan oleh para
manajer dan karyawan yang berpartisipasi dalam analisis dan aktivitas pemilihan
strategi. Setiap strategi tambahan yang dihasilkan dari analisis-analisis
pencocokan dapat didiskusikan dan ditambahkan pada daftar pilihan alternatif
yang masuk akal. Tahap keputusan menggunakan Matriks Perencanaan Strategis
Kuantitatif (QSPM). Salah satu keistimewaan dari QSPM adalah bahwa
rangkaian-rangkaian strateginya dapat diamati secara berurutan atau bersamaan.
Keistimewaan lain dari QSPM adalah mendorong para penyusun strategi untuk
memasukkan faktor-faktor eksternal dan internal yang relevan ke dalam proses
keputusan.
Pada kondisi normal
pengambilan dan pemilihan strategi adalah proses yang seperti biasa sudah di
pakai yaitu analisis internaleksternal, lalu timbul beberapa alternatif dan
kemudian dipilih strategi yang paling sesuai dan diimplementasikan. Namun di
saat krisis, berdasarkan riset dan observasi, bisnis yang sukses juga harus
memperhatikan faktor 6C berikut ini secara komprehensif dan tidak parsial :
1) Client.
Melihat perbedaan client dengan customer dapat merubah cara pandang dalam
berbisnis. Customer adalah orang yang membeli produk atau jasa kita, sedangkan
client adalah orang yang berada dalam perlindungan kita dan karenanya merasa
aman dan nyaman jika menggunakan produk/jasa kita. Jika perusahaan menempatkan
pelanggannya sebagai klien, perusahaan akan memberikan produk atau jasa yang
terbaik dan tidak merugikan kliennya.
2) Corporation.
Tentukan dulu apa kompetensi inti kita, yang harus bersifat valuable, rare,
costly to imitate dan non-substitutable. Mendapatkan kompetensi inti tentu
tidak mudah tapi harus berawal dari visi, misi dan sumber daya yang dimiliki
oleh perusahaan.
3) Contestant.
Semua yang dapat mempengaruhi client alam pengambilan keputusan pembelian,
baik pesaing langsung maupun tidak langsung, produk pengganti, produk
alternatif maupun ancaman pendatang baru. Perusahaan di dunia bisnis tidak akan
pernah berdiri sendiri. Ketika usaha bisnisnya menampakkan sinyal prositif dan
kemajuan yang signifikan, banyak pebisnis lain yang akan ikut serta. Ini
menuntut perusahaan untuk mampu menghadapi kompetisi bisnis. Jika perusahaan
tidak dapat bertahan maka pesaing lain akan menggerus bisnisnya dan merebut
pangsa pasar yang ada.
4) Changes.
Dunia yang bergerak mendorong kita bergerak fleksibel. Sensitivitas
terhadap perubahan politik-demografi-hukum-lingkunganekonomi-teknologi dan
sosial budaya memaksa kita membuat rencana bisnis yang harus fleksibel juga
terhadap perubahan. Krisis perekonomian yang terjadi juga merupakan bagian dari
perubahan kondisi ekternal yang akan berdampak pada perusahaan. Jika perusahaan
tidak mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi maka perusahaan akan
tertinggal atau bahkan gulung tikar.
5) Companions atau partnership.
Di era globalisasi yang menuntut tiap perusahaan meningkatkan kompetensi
ini, penemuan teman seperjuangan adalah hal yang vital dan membantu untuk lebih
fokus. Untuk mengembangkan bisnis atau memperlancar kegiatan produksi
perusahaan dapat melakukan serangkaian kerjasama. Misalnya dengan merger,
akuisisi dan aliansi bisnis.
6) Coercive group.
Ini adalah grup-grup penekan yang bisa memusingkan kepala. Di tingkat
internasional siapa yang tidak kenal Green Peace, misalnya. Pendekatan terhadap
grup-grup penekan ini memerlukan keahlian khusus sebab apa yang mereka
teriakkan belum tentu sama dengan apa yang mereka inginkan.
Keenam langkah di atas merupakan unsur teknis dalam pemilihan strategi
bisnis, unsur yang menerapkan scientific management sebagai landasan berpikir.
Jika semua unsur di atas dilaksanakan sepenuh hati, akan memberikan pedoman
yang sangat jelas kepada para pebisnis untuk tetap dapat selamat di kondisi
krisis global ini.
Untuk dapat bersaing
di masa krisis perusahaan tidak dapat bersandar pada keunggulan sesaat namun
juga keunggulan yang bisa bertahan untuk jangka waktu yang relatif panjang.
Porter (dalam Kerjajaya, 2009) mengemukakan bahwa hal ini dapat dilakukan
dengan tiga cara.
1) Cost leadership. Kemampuan menawarkan layanan dengan biaya yang lebih
rendah.
2) Diferensiasi. Kemampuan memberikan sesuatu yang unik diantara
kompetitornya.
3) Fokus pada pendekatan dimana memilih melayani hanya satu segmen spesifik.
Tiga jurus strategi yang acapkali diaplikasikan oleh
perusahaan-perusahaan kelas dunia :
1)
Jurus yang pertama adalah pilihan strategi yang
berorientasi pada product leadership. Perusahaan pada kategori ini selalu
berupaya menciptakan produk-produk dengan kualitas premium, dan selalu one step
ahead dibanding produk kompetitor.
2)
Jurus strategi yang kedua adalah pilihan yang
berorientasi pada operational excellence. Bagi perusahaan dalam kategori ini,
yang paling utama adalah membangun proses bisnis yang super efisien.
3)
Jurus yang Ketiga adalah pilihan
strategi yang mengacu pada customer intimacy (keintiman dengan pelanggan). Bagi
perusahaan dalam kategori ini, yang paling utama adalah membangun hubungan yang
intim dengan para pelanggannya.